Senin, 01 Juli 2013

Miniatur Masjid dari Styrofoam




antologi yang muncul pada angkatan 2000

antologi yang muncul pada angkatan 2000 
v  Antologi Sembilu pada tahun 1992 ( Abdul Wachid B.S)
v  Antologi Puisi Indonesia tahun 1997 ( Ahmadun Yosi Herfanda )
v  Antologi Puisi Jateng tahun 1994 ( Omi Intan Naomi )
v  Antologi Seratus Sajak Sunda tahun 1992 ( Soni Farid Maulana )

v  Antologi Puisi Indonesia 1997 tahun 1997 ( Soni Farid Maulana )

pembaharuan dibidang puisi

       pembaharuan dibidang puisi, siapa tokohnya dan sebutkan karyanya !
Peta perpuisian Indonesia berhenti di tangan Sutardji. Penggebrakan generasi sebelumnya terasa belum banyak berarti. Afrizal Malna yang dianggap lokomotif Angkatan 2000 di bidang puisi, hanya mencari kedalaman kata. Gejala mempengaruhi antargenerasi memang kerap terjadi, dalam bidang apapun.
Bisa dilihat, bagaimana Afrizal yang mengakui dirinya terpengaruh sajak Goenawan Muhammad, di awal kepenyairannya. Hal ini, berbeda dengan dunia Cerpen atau agar lingkupnya lebih luas, saya lebih enak menyebutnya sebagai dunia prosa. Gaya kepenulisan yang disuguhkan senantiasa berbeda.
1.       Afrisal Malna
Sajak :
a.       Abad yang Berlari (1984)
b.      Mitis-Mitis Kecemasan (1985)
c.       Yang Berdiam dalam Mikropon (1990)
d.      Arsitek Hujan (1995)
e.      Kacung dari Taman (1999)
f.        Yang tak Bersih (2000)
2.       Seno Gumira Ajidarma
Sajak :
a.       Granat dan Dinamit (1975)
b.      Mati Mati Mati (1975)
c.       Bayi Mati (1978)
3.       Dorothea Rosa Herliany
Puisi :
a.       Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
4.       Gustaf Sakai
Puisi :

a.       Sangkar Daging (1997)

Pembaharuan dibidang prosa

 Pembaharuan dibidang prosa, siapa tokohnya dan sebutkan karyanya !

(1)    pencerminan sebagai karya reformis di mana terjadi revolusi dalam bentuk,
(2)    pencerminan karya inspiratif yang terdapat kejenialan ide dan tematik, serta
(3)    revolusioner karena kekuatan estetika.
Perubahan struktur tipografis membawa pembaruan pada komposisi yang dibangun dalam tanda-tanda dan penanda kompositoris. Estetika komposisi dibangun dalam pengaturan partisipasi benda-benda, peristiwa, pertanyaan, aku lirik, dan pikiran diaransemen di dalam perfeksi yang sejajar dan objektif. Afrizal Malna menyajikan bahan dan bentuk yang orisinal dalam tataran estetika Angkatan 2000 pada penciptaan aransemental.
1.       Ayu Utami
Novel :
a.       Zaman (2000)
b.      Larung (lanjutan dari cerita Zaman)
2.       Eka Kurniawan
Novel :
a.       Cantik Itu Luka (2002)
b.      Lelaki Harimau (2004)
3.       Habiburrahman El Shirazy
Karya-karyanya adalah :
a.       Ayat-Ayat Cinta (2004)
b.      Di atas Sejadah Cinta (2004)
c.       Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
d.      Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
e.      Dalam Mihrab Cinta (2007)
4.       Korrie Layun Rampan

Novel : Perawan (2000)

Ciri-ciri angkatan 2000

Ciri-ciri angkatan 2000 

v  Pilihan kata diambil dari bahasa sehari-hari yang disebut bahasa ‘kerakyatjelataan’.
v  Revolusi tipografi atau tata wajah yang bebas aturan dan cenderung ke puisi konkret.
v  Penggunaan estetika baru yang disebut “antromofisme” (gaya bahasa berupa penggantian tokoh manusia sebagai ‘aku lirik’ dengan benda-benda)
v  Karya-karyanya profetik (keagamaan/religius) dengan kecenderungan menciptakan penggambaran yang lebih konkret melalui alam.

v  Kritik social juga muncul lebih keras.

Wawasan estetika angkatan 2000

Wawasan estetika angkatan 2000 


Buah politik etis di satu pihak memberi keuntungan pada pemerintahan kolonial karena tersedaianya tenaga-tenaga murah terdidik yang siap pakai dalam bidang administratif untk ikut serta menggulingkan roda pemerintahan dan roda perekonomian, di pihak lain justru menyuburkan paham kebangsaan yang dirasa bisa merongrong eksitensi kekuasaan kolonial. Oleh sebab itu, pemerintah menetapkan suatu cara untuk mempersempit ruang ruang baca dan mendirikan suatu komisi yang diberi nama Commissie voor de Inlandshe School en Volkslectuur tanggal 14 September 1908.
Pada awalnya badan ini hanya merupakan alat pemerintah kolonial untuk menyaingi-kalau mungkin mematikan-penerbit ‘bacaan liar” yakni buku-buku yang dianggap mengandung “politik antipemerintah”.Disamping sebagai konsumen, masyarakat yang sudah melek mata berusaha untuk menjadi kreator.
Didalam sejarah sastra Indonesia, dikenal apa yang disebut kesusatraan di Indonesia, yaitu bentuk-bentuk baku sastra daerah. Disamping masih dalam bahasa lisan, sastra daerah juga banyak ditulis terutama pada puak-puak yang memiliki aksara sendiri seperti Jawa, Sunda.
Kesusastraan Indonesia juga muncul dari penulis-penulis Indonesia maupun penulis bangsa Indonesia yang dengan kesadaran artistik tersendiri menggunakan bahasa Belanda sebagai alat pengucapan sastra. Pengarang itu yaitu Noto Soeroto (1886-1951).
Karya-karya para pengarang Indo ini mencerminkan Indonesia sebagai fakta latar dengan tokoh-tokoh Indonesia atau campuran-namun unsur-unsur yang menjiwai menggunakan sudut pandang orang asing.
Tiga jenis kesusastraan di Indonesia memberi kontribusi kepada kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangan kesusastraan Indonesia. Sejak Angkatan 66 yang dipelopori oleh H.B. Jassin, sastra Indonesia seolah-olah mengalami stagnasi, karena tidak melahirkan angkatan baru. Sebenarnya setelah angkatan 66 telah muncul gagasan lahirnya angkatan sastra baru. Mula-mula Dami N. Toda menyampaikan gagasan lahirnya Angkatan 70 lewat makalahnya. disamping muncul Angkatan 70 muncul juga gagasan baru yakni Angkatan 80.
Penulis melihat bahwa ada perbedaan wawasan estetik baik Angkatan 45, Angkatan 66, maupun Angkatan 80. Ciri utama dari angkatan ini nampak dari penekanan proses kreatif mereka pada seni improvisasi.
Menentukan angkatan sastra hanya menekankan pada segi waktu dan usia tak sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan. Terbentuknya sebuah angkatan sastra harus memenuhi dua syarat, yaitu (1) adanya sekelompok sastrawan yang menjadi pendukkung angkatan sastra tersebut, dan (2) adanya karya sastra yang inovatif, spesifik, kreatif, dan inspiratif, serta mengandung pergeseran pemikiran dengan cara mengungkapkan pemikiran-pemikiran baru dan pendirian-pendirian baru dengan bentuk yang berbeda dari angkatan sebelumnya sehingga melahirkan wawasan estetik yang baru.
Kelahiran angkatan sastra memiliki hubungan yang sangat erat dengan peristiwa traumatik dan bersejarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sastrawan selalu mengambil peran sebagai penyambung lidah masyarakat. Namun, karya sastra reformis kadang belum meraih eksistensinya sebagai sarana komunikasi literer sebelum mendapat legitimasi publik.
Tidak ada satu angkatan sastra tanpa adanya pemberontakan estetika. Apapun yang diperjuangkan dalam karya sastra, semua itu selalu bertumpu pada kaidah umum tentang keindahan.
Lahirnya sebuah angkatan baru dapat dianalisis dari kehadiran karya sastra yang mencerminkan tiga segi pembaruan, yaitu: (1) pencerminan sebagai karya reformis di mana terjadi revolusi dalam bentuk, (2) pencerminan karya inspiratif yang terdapat kejenialan ide dan tematik, serta (3) revolusioner karena kekuatan estetika.
Pembaruan yang berupa pemberontakan estetika selalu lahir secara alami. Sebuah angkatan sastra sebenarnya merupakan estafet pembaruan yang dilahirkan oleh zaman tentang dinamika suatu zaman. Kelahiran angkatan sastra lebih merujukan dinamika penciptaan dari para asastra kreatif yang sepenuhnya terpanggil mewakili zamannya untuk memberi peringatan dan penyampaian kebajikan dan kebenaran.
Sastra yang murni, sebenarnya memang harus lahir dari tekanan dan jepitan, karena ia sepenuhnya mewakili suara kemanusiaan, karena ia sepenuhnya mewakili suara kemanusiaan, karena ia merupakan saksi dan pencatat zaman yang paling adil dan bijaksana.
Pergesaran wawasan estetik ini ditandai oleh perubahan struktur larik dan bait. Revolusi tipografi ini membawa pembaruan pada kedudukan kata di dalam sajak. Pembaruan terhadap pilihan dan kedudukan kata membawa pergeseran pada penempatan lirikus. Afrizal Malna memilih wacana baru dalam wicara antarsubjek, meskipun terlepas dari imbangan manusiawi, yaitu menghidupkan benda-benda sebagai persona yang melahirkan sifat antropomorfisme. Ia juga menempatka kata-kata inosen dalam pikir perupaan sehingga melahirkan sifat instalatif.
Perubahan struktur tipografis membawa pembaruan pada komposisi yang dibangun dalam tanda-tanda dan penanda kompositoris. Estetika komposisi dibangun dalam pengaturan partisipasi benda-benda, peristiwa, pertanyaan, aku lirik, dan pikiran diaransemen di dalam perfeksi yang sejajar dan objektif. Afrizal Malna menyajikan bahan dan bentuk yang orisinal dalam tataran estetika Angkatan 2000 pada penciptaan aransemental.
Perkayaan angkatan 2000 ditandai oleh meluas dan mendalamnya materi yang digarap para penyair, khususnya pengikut Afrizal Malna, sehingga melahirkan wawasan estetik baru atau memperluas wawasan estetik yang telah ada. Penyair Dorothea Rosa Herliany yang dengan pola terusan atau pola sungsang dapat mencapai kematangan dan klasisitas lewat bentukan nirbait yang konsisten, bahkan kadang tanpa enjambemen sehingga mencirikan sebuah penemuan yang mempribadi.
Pergeseran atavisme kepada pengucapan estorik yang mencirikan warna lokal dieksploitasi secara manarik dengan inovasi baru sehingga mampu meniadakan sifat keasingan. Dengan membangun imajinasi imajinasi-imajinasi tempat dan imajinasi-imajinasi budaya, serta berbagai peristiwa sakral.
Umar kayam merupakan pembaru dengan ciptaan fiksi suasana yang mencerminkan hubungan timbal balik antar tokoh sehingga atmosfernya mengerucut sebagai mikrokosmos yang melibatkan berbagai unsur masyarakat berkeroyokan didalam peristiwa tersebut.
Seno memaparkan sifat fiksionalnya dalam strategi yang dihubungi dunia dongeng. Pada Seno tokoh-tokoh yang dibangun dari kenyataan sehari-hari yang dijalin dari peristiwa sehari-hari. Seno membangun pola dongeng sebagai kisah modern yang memperlihatkan pola ucap dan wawasan estetik yang baru.
Estetik baru yang dikembangkan secara menarik oleh Seno adalah perkembaliannya terhadap sastra murni yang tidak memisahkan antara wacana prosa dan puisi. Pembaruan lain Seno yang merupakan tonggak estetik angkatan ini muncul dari realitas dari dongeng yang dituliskan.
Naradi komikal yang diaransemen di dalam fiksi-fiksi satiris mencerminkan refleksi sosial-kemasyarakatan yang berada dibawah tekanan rezim. Segi lain pembaruan angkatan ini adalah muncul secara kuat arus narasi kehilangan.
Salah satu sastrawan angkatan 2000 yang terkenal adalah Ayu Utami. Ayu lahir di Bogor pada 21 November 1968. Menempuh studi sarjana pada jurusan Rusia Fakultas Sastra UI. Fragmen novelnya Laila Tak Mampir di New York yang diberi judul Saman meraih hadiah pertama dalam Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998.

Novel Sama karya Ayu Utami merupakan penggambaran kehidupan masyarakat saat novel tersebut diciptakan. Novel Saman merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat Indonesia yang berada di bawah kekuasaan rezim Orde Baru, yang terjadi pada tahun 1990-an.

Perbedaan Ciri Puisi Angkatan Pujangga Baru dengan Angkatan 45

Perbedaan Ciri Puisi Angkatan Pujangga Baru dengan Angkatan 45
Berikut adalah perbedaan ciri puisi Angkatan Pujangga Baru dengan Angkatan ’45
a.       Bentuk atau struktur puisinya menguikuti bentuk atau struktur puisi baru, seperti soneta, distichon, tersina, oktaf, dan sebagainya. Puisi pada masa Pujanga Baru masih memiliki sifat semi mekiat. Sedangkan puisi pada angkatan 45 Puisinya adalah puisi bebas yang tidak trikat oleh pembagian bait, baris, dan persajakan.
b.      Ciri yang kedua yang terdapat pada puisi Angkatan Pujangga Baru adalah, Pilihan kata-katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah-indah, seperti dewangga, nan, kelam, bonda, dan sebagainya. Sedangkan puisi Angkatan 45 memiliki ciri Gaya atau aliran yang banyak dianut adalah aliran ekspresionisme dan realisme. Sehingga kata-kata yang disampaikan sesuai dengan ekspresi dan realita pengarang, jarang lagi dijumpai kata-kata indah yang masih tergolong bahasa Melayu Indonesia.
c.       Pada gaya penulisan, Puisi Angkatan Pujangga Baru memiliki ciri, kiasan yang banyak dipergunakan adalah gaya bahasa simetris. Tiap lirik biasanya terdiri atas dua periode. Sedangkan pada puisi Angkatan 45 memiliki ciri, Diksinya yang mengemukakan pengalaman batin yang mendalam dan mengungkapkan intensitas arti. Kosakatanya adalah bahasa sehari-hari sesuai dengan aliran realisme.
d.      Puisi Angkatan Pujangga Baru Menggunakan Gaya ekspresi aliran romantik yang nampak dalam pengucapak perasaan, pelukisan alam yang indah tentram damai, dan keindahan lainnya. Sedangkan Gaya yang digunakan pada Puisi Angkatan 45 adalah Gaya bahasa metafora dan simbolik banyak dipergunakan; kata-kata, frase, dan kalimat bermakna ganda menyebabkan tafsiran ganda bagi pembaca.
e.       Puisi Angkatan Pujangga Baru juga Bergaya diafan dan polos, sangat jelas, dan lambang-lambangnya yang digunakan dalam puisi tersebut bersifat umum. Sedangkan dalam Puisi Angkatan 45 Gaya pernyataan pikiran berkembang, dan hal ini kelak berkembang menjadi sloganis.

f.       Ciri yang terakhir dari Puisi Pujangga Baru adalah, Rima (persajakan) dijadikan sarana kepuitisan. Sedangkan dalam Puisi Angkatan 45 lebih banyak menggunakan Majas dengan Gaya ironi dan sinisme.