Buah politik etis di satu pihak memberi keuntungan pada pemerintahan
kolonial karena tersedaianya tenaga-tenaga murah terdidik yang siap pakai dalam
bidang administratif untk ikut serta menggulingkan roda pemerintahan dan roda
perekonomian, di pihak lain justru menyuburkan paham kebangsaan yang dirasa
bisa merongrong eksitensi kekuasaan kolonial. Oleh sebab itu, pemerintah
menetapkan suatu cara untuk mempersempit ruang ruang baca dan mendirikan suatu
komisi yang diberi nama Commissie voor de Inlandshe School en Volkslectuur
tanggal 14 September 1908.
Pada awalnya badan ini hanya merupakan alat pemerintah kolonial untuk
menyaingi-kalau mungkin mematikan-penerbit ‘bacaan liar” yakni buku-buku yang
dianggap mengandung “politik antipemerintah”.Disamping sebagai konsumen,
masyarakat yang sudah melek mata berusaha untuk menjadi kreator.
Didalam sejarah sastra Indonesia, dikenal apa yang disebut kesusatraan
di Indonesia, yaitu bentuk-bentuk baku sastra daerah. Disamping masih dalam
bahasa lisan, sastra daerah juga banyak ditulis terutama pada puak-puak yang
memiliki aksara sendiri seperti Jawa, Sunda.
Kesusastraan Indonesia juga muncul dari penulis-penulis Indonesia maupun
penulis bangsa Indonesia yang dengan kesadaran artistik tersendiri menggunakan
bahasa Belanda sebagai alat pengucapan sastra. Pengarang itu yaitu Noto Soeroto
(1886-1951).
Karya-karya para pengarang Indo ini mencerminkan Indonesia sebagai fakta
latar dengan tokoh-tokoh Indonesia atau campuran-namun unsur-unsur yang
menjiwai menggunakan sudut pandang orang asing.
Tiga jenis kesusastraan di Indonesia memberi kontribusi kepada
kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangan kesusastraan Indonesia. Sejak Angkatan
66 yang dipelopori oleh H.B. Jassin, sastra Indonesia seolah-olah mengalami
stagnasi, karena tidak melahirkan angkatan baru. Sebenarnya setelah angkatan 66
telah muncul gagasan lahirnya angkatan sastra baru. Mula-mula Dami N. Toda
menyampaikan gagasan lahirnya Angkatan 70 lewat makalahnya. disamping muncul
Angkatan 70 muncul juga gagasan baru yakni Angkatan 80.
Penulis melihat bahwa ada perbedaan wawasan estetik baik Angkatan 45,
Angkatan 66, maupun Angkatan 80. Ciri utama dari angkatan ini nampak dari
penekanan proses kreatif mereka pada seni improvisasi.
Menentukan angkatan sastra hanya menekankan pada segi waktu dan usia tak
sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan. Terbentuknya sebuah angkatan sastra
harus memenuhi dua syarat, yaitu (1) adanya sekelompok sastrawan yang menjadi
pendukkung angkatan sastra tersebut, dan (2) adanya karya sastra yang inovatif,
spesifik, kreatif, dan inspiratif, serta mengandung pergeseran pemikiran dengan
cara mengungkapkan pemikiran-pemikiran baru dan pendirian-pendirian baru dengan
bentuk yang berbeda dari angkatan sebelumnya sehingga melahirkan wawasan
estetik yang baru.
Kelahiran angkatan sastra memiliki hubungan yang sangat erat dengan
peristiwa traumatik dan bersejarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sastrawan selalu mengambil peran sebagai penyambung lidah masyarakat. Namun,
karya sastra reformis kadang belum meraih eksistensinya sebagai sarana
komunikasi literer sebelum mendapat legitimasi publik.
Tidak ada satu angkatan sastra tanpa adanya pemberontakan estetika.
Apapun yang diperjuangkan dalam karya sastra, semua itu selalu bertumpu pada
kaidah umum tentang keindahan.
Lahirnya sebuah angkatan baru dapat dianalisis dari kehadiran karya
sastra yang mencerminkan tiga segi pembaruan, yaitu: (1) pencerminan sebagai
karya reformis di mana terjadi revolusi dalam bentuk, (2) pencerminan karya
inspiratif yang terdapat kejenialan ide dan tematik, serta (3) revolusioner
karena kekuatan estetika.
Pembaruan yang berupa pemberontakan estetika selalu lahir secara alami.
Sebuah angkatan sastra sebenarnya merupakan estafet pembaruan yang dilahirkan
oleh zaman tentang dinamika suatu zaman. Kelahiran angkatan sastra lebih
merujukan dinamika penciptaan dari para asastra kreatif yang sepenuhnya
terpanggil mewakili zamannya untuk memberi peringatan dan penyampaian kebajikan
dan kebenaran.
Sastra yang murni, sebenarnya memang harus lahir dari tekanan dan
jepitan, karena ia sepenuhnya mewakili suara kemanusiaan, karena ia sepenuhnya
mewakili suara kemanusiaan, karena ia merupakan saksi dan pencatat zaman yang
paling adil dan bijaksana.
Pergesaran wawasan estetik ini ditandai oleh perubahan struktur larik
dan bait. Revolusi tipografi ini membawa pembaruan pada kedudukan kata di dalam
sajak. Pembaruan terhadap pilihan dan kedudukan kata membawa pergeseran pada
penempatan lirikus. Afrizal Malna memilih wacana baru dalam wicara antarsubjek,
meskipun terlepas dari imbangan manusiawi, yaitu menghidupkan benda-benda
sebagai persona yang melahirkan sifat antropomorfisme. Ia juga menempatka
kata-kata inosen dalam pikir perupaan sehingga melahirkan sifat instalatif.
Perubahan struktur tipografis membawa pembaruan pada komposisi yang
dibangun dalam tanda-tanda dan penanda kompositoris. Estetika komposisi
dibangun dalam pengaturan partisipasi benda-benda, peristiwa, pertanyaan, aku
lirik, dan pikiran diaransemen di dalam perfeksi yang sejajar dan objektif.
Afrizal Malna menyajikan bahan dan bentuk yang orisinal dalam tataran estetika
Angkatan 2000 pada penciptaan aransemental.
Perkayaan angkatan 2000 ditandai oleh meluas dan mendalamnya materi yang
digarap para penyair, khususnya pengikut Afrizal Malna, sehingga melahirkan
wawasan estetik baru atau memperluas wawasan estetik yang telah ada. Penyair
Dorothea Rosa Herliany yang dengan pola terusan atau pola sungsang dapat
mencapai kematangan dan klasisitas lewat bentukan nirbait yang konsisten,
bahkan kadang tanpa enjambemen sehingga mencirikan sebuah penemuan yang
mempribadi.
Pergeseran atavisme kepada pengucapan estorik yang mencirikan warna
lokal dieksploitasi secara manarik dengan inovasi baru sehingga mampu
meniadakan sifat keasingan. Dengan membangun imajinasi imajinasi-imajinasi
tempat dan imajinasi-imajinasi budaya, serta berbagai peristiwa sakral.
Umar kayam merupakan pembaru dengan ciptaan fiksi suasana yang
mencerminkan hubungan timbal balik antar tokoh sehingga atmosfernya mengerucut
sebagai mikrokosmos yang melibatkan berbagai unsur masyarakat berkeroyokan
didalam peristiwa tersebut.
Seno memaparkan sifat fiksionalnya dalam strategi yang dihubungi dunia
dongeng. Pada Seno tokoh-tokoh yang dibangun dari kenyataan sehari-hari yang
dijalin dari peristiwa sehari-hari. Seno membangun pola dongeng sebagai kisah
modern yang memperlihatkan pola ucap dan wawasan estetik yang baru.
Estetik baru yang dikembangkan secara menarik oleh Seno adalah
perkembaliannya terhadap sastra murni yang tidak memisahkan antara wacana prosa
dan puisi. Pembaruan lain Seno yang merupakan tonggak estetik angkatan ini
muncul dari realitas dari dongeng yang dituliskan.
Naradi komikal yang diaransemen di dalam fiksi-fiksi satiris mencerminkan
refleksi sosial-kemasyarakatan yang berada dibawah tekanan rezim. Segi lain
pembaruan angkatan ini adalah muncul secara kuat arus narasi kehilangan.
Salah satu sastrawan angkatan 2000 yang terkenal adalah Ayu Utami. Ayu
lahir di Bogor pada 21 November 1968. Menempuh studi sarjana pada jurusan Rusia
Fakultas Sastra UI. Fragmen novelnya Laila Tak Mampir di New York yang diberi
judul Saman meraih hadiah pertama dalam Sayembara Mengarang Roman Dewan
Kesenian Jakarta tahun 1998.
Novel Sama karya Ayu Utami merupakan penggambaran kehidupan masyarakat
saat novel tersebut diciptakan. Novel Saman merupakan refleksi dari kehidupan
masyarakat Indonesia yang berada di bawah kekuasaan rezim Orde Baru, yang
terjadi pada tahun 1990-an.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar