v
Pilihan kata diambil dari bahasa sehari-hari
yang disebut bahasa ‘kerakyatjelataan’.
v
Revolusi tipografi atau tata wajah yang bebas
aturan dan cenderung ke puisi konkret.
v
Penggunaan estetika baru yang disebut
“antromofisme” (gaya bahasa berupa penggantian tokoh manusia sebagai ‘aku
lirik’ dengan benda-benda)
v
Karya-karyanya profetik (keagamaan/religius)
dengan kecenderungan menciptakan penggambaran yang lebih konkret melalui alam.
v
Kritik social juga muncul lebih keras.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar